Sabtu, 21 Januari 2012

kita bukanlah ahli, melainkan pengguna (so jangan takut gunain statistik..ok:)

Statistik itu sulit? Ya, benar statistik itu sulit. Pasti sebagian besar orang akan berkata seperti itu. Apalagi bagi mereka yang tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan angka-angka. Bahkan dalam ilmu psikologi, istilah khusus bagi mereka yang tidak menyukai matematika mendapat sebutan “phobia matematika”. Apakah anda termasuk didalamnya?... Padahal kita semua mengetahui bahwa dikeseharian kita tidak pernah terlepas dari hitung-menghitung. Bahkan setiap langkah kita untuk sampai ke suatu tempat dihitung dengan statistik. Coba anda melangkah sepuluh langkah kedepan, sekarang anda ada dimana? Berbeda ketika anda melangkah 100 langkah kedepan, pasti tempat anda sekarang tidak berada ditempat semula. Itu semua statistik bukan?.

Anda sebagai seorang mahasiswa, mau tidak mau akan bertemu dengan penelitian, khususnya penelitian kuantitatif. Bukan hanya itu, dalam dunia kerja sekalipun Anda akan bertemu dengan statistik. Kalo boleh dibilang, “dimanapun anda berada, anda akan bertemu dengannya”, tetapi jangan takut karena sebenarnya statistik itu banyak sekali membantu pekerjaan kita. Contoh simpelnya ketika kita ingin sekali membeli suatu barang akan tetapi gaji (bagi yang sudah bekerja) atau uang saku (bagi yang masih mengandalkan Parent Foundation alias beasiswa orang tua…hehehehe) yang kita peroleh pas-pasan. Solusinya adalah dengan cara menyisihkan sebagain uang, kira-kira berapa rupiah uang yang harus kita sisihkan dalam setiap bulan dan berapa bulan harus menahan sedikit rasa lapar (baca: jajan). Nah, dalam kasus tersebut ternyata statistik banyak membantu kita. Benar kan??.....masih banyak lagi manfaat yang kita peroleh dari statistik.

Kuncinya ketika mendengar statsitik, berfikirlah simple dan jangan berfikir rumit. Toh, kita bukan ahli akan tetapi kita adalah pengguna. Sebagai pengguna, kita tidak dituntut untuk memikirkan atau mengutak-atik statistik yang rumit melainkan hanya sebatas memanfaatkan hasil temuan dari para ahli statistik. Apalagi sekarang ini banyak sekali alat bantu (shoft were) yang memudahkan kita dalam menerapkan statistik untuk membantu penyelesaian pekerjaan kita. Statistik itu sama halnya dengan komputer, apakah ketika anda menggunakan computer, anda dituntut untuk menjadi ahli komputer terlebih dahulu? Tidak kan! Begitu juga dengan statistik yang berkenaan dengan penerapannya. Sekali lagi kita tidak dituntut untuk menjadi ahli statistik terlebih dahulu, karena kita hanya sebatas pemakai dan pemanfaat saja. Jadi anjurannya apabila anda masih membenci statistik maka “bencilah statistik itu sewajarnya, karena bisa jadi statistik akan menjadi sesuatu yang engkau cintai”, lho kan Anda sekarang mulai tertarik dengan statistik…hehehe…ingat “statisik bukanlah momok, melainkan solusi nyata”.

Pada bab-bab selanjutnya kita akan mengenal ulang tentang komponen-komponen statistik, kita kenal kembali sebagai kilas balik akan pelajaran yang pernah kita peroleh mulai TK sampai SMA. Jangan takut dahulu, sebab yang akan kita ulang kembali adalah pelajaran simple akan tetapi ternyata sangat bermanfaat untuk membantu pekerjaan kita (analisis penelitian atau lainnya). Tidak hanya sebatas teori statistik saja yang akan kita pelajari selanjutnya, akan tetapi juga aplikasi nyata untuk membantu menyelesaikan persoalan yang kita hadapi dalam penelitian maupun pekerjaan. Satu kata yang perlu kita ingat “jangan belajar hanya sebatas menghafal, melainkan aplikasikan dalam realitas Anda. Dengan begitu secara tidak sadar Anda akan menguasainya dan memudahkan pekerjaan Anda”.
so, ikuti terus blog ini...

1 komentar:

  1. ni dia yang ane tunggu, selamat atas kelahiran "analisisdata.blogspot.com"
    semoga membawa manfaat dalam dunia pendidikan di Indonesia Khususnya.
    banyak fenomena dalam dunia pendidikan khususnya pada ranah pengukuran. mau tidak mau kita harus melakukan "pengukuran" sebagai konsekwensi dari pendidikan tersebut.
    semuanya akan baik2 saja jika pengukuran dilakukan dengan kaidah yang benar. tapi sebaliknya kompensasi negatif menjadi efek pengukuran yang tidak benar sesuai dengan kaidah yang benar.
    selamat dan sukses. kami tunggu ulasan2 berikutnya.............
    salam by
    Muhammad Ali Sodik
    *MAS*

    BalasHapus